Appointment

Botox Untuk Terapi Hiperhidrosis

Botox Untuk Terapi Hiperhidrosis
  • Rani Sarasmita
  • 07 Jul 2026

BOTOX UNTUK TERAPI HIPERHIDROSIS

 

Keluarnya keringat merupakan mekanisme termoregulasi tubuh normal untuk mengeluarkan panas tubuh, pada beberapa orang dapat terjadi kelainan hiperhidrosis. Hiperhidrosis adalah kelainan kelenjar keringat yang ditandai dengan produksi keringat berlebih untuk mencapai termoregulasi sistem tubuh yang terjadi di seluruh tubuh (hiperhidrosis umum) atau di beberapa bagian tubuh (hiperhidrosis lokal). Secara umum, sekitar 1–3 dari 100 orang di dunia mengalami hal ini. Hiperhidrosis dapat diklasifikasikan menjadi primer (idiopatik atau penyebab tidak diketahui dan ditemukan pada 1 atau lebih area tubuh) dan sekunder (riwayat penyakit sistemik lainnya dan obat-obatan). Lokasi yang sering terlibat yaitu kulit kepala, telapak tangan, ketiak, lipat paha dan telapak kaki. 

Hiperhidrosis atau keringat berlebih bisa membuat hidup seseorang jadi kurang nyaman karena mempengaruhi kepercayaan diri, pergaulan, bahkan pekerjaan. Kondisi ini juga bisa merusak perlindungan alami kulit sehingga kulit lebih mudah terkena infeksi jamur atau bakteri. 

Langkah pertama biasanya menggunakan obat oles yang mengandung aluminium klorida. Zat ini membantu menutup saluran kelenjar keringat sementara waktu sehingga keringat berkurang. Namun penggunaan obat oles umumnya memiliki hasil yang kurang memuaskan. Jika obat oles tidak cukup efektif, dokter bisa meresepkan obat minum yang bekerja menekan produksi keringat. 

Terdapat juga tindakan botox untuk menangani kasus hiperhidrosis yang dikatakan sangat efektif dengan efek samping yang minimal. Dalam kasus hiperhidrosis, botox tidak dipakai untuk kecantikan saja, tetapi untuk membantu mengurangi produksi keringat berlebih di area tertentu. Di dalam tubuh, kelenjar keringat akan diaktifkan oleh saraf, dengan penggunaan botox akan bekerja dengan memblokir sinyal saraf tersebut sehingga kelenjar keringat menjadi jauh kurang aktif. Hasilnya, keringat di area yang disuntik berkurang signifikan selama beberapa bulan, sehingga pakaian tidak mudah basah dan bau badan bisa ikut berkurang.​ Efek botox tidak langsung maksimal di hari yang sama, keringat biasanya mulai berkurang dalam beberapa hari dan mencapai efek maksimal sekitar 2–3 minggu. Pada banyak orang, efeknya dapat bertahan 4–12 bulan, setelah itu keringat pelan‑pelan dapat kembali dan prosedur bisa diulang bila diperlukan. Efek samping injeksi botox berupa reaksi lokal pada kulit seperti nyeri, bengkak, gatal, eritema, edema, dan kebiruan yang terjadi dalam 1-2 hari paska penyuntikan. Botox umumnya dipertimbangkan pada pasien dengan keringat berlebih yang tidak membaik dengan pengobatan sederhana seperti antiperspiran obat oles ataupun untuk orang yang belum ataupun takut untuk melakukan tindakan pembedahan.

 

Referensi 

  1. Oshima Y, Fujimoto T, Nomoto M, Fukui J, Ikoma A. Hyperhidrosis: A targeted literature review of the disease burden. The Journal of Dermatology. 2023 Jul 31;50(10):1227–36. doi:10.1111/1346-8138.16908 

  2. Kisielnicka A, Szczerkowska-Dobosz A, Purzycka-Bohdan D, Nowicki RJ. Hyperhidrosis: disease aetiology, classification and management in the light of modern treatment modalities. Postepy Dermatol Alergol. 2022;39(2):251-257. doi:10.5114/ada.2022.115887

  3. Kang S, Amagai M, Bruckner A, et al., eds. Fitzpatrick’s Dermatology. 9th ed. Mc Graw-Hill; 2019:1459-1468.